Millenial Kunci dari SDGs Assalamualaikum guys… Cieee yang akhirnya kembali lagi di blog aku… Okay guys jadi kali ini aku berkesempatan mengikuti lomba blog competation dari UKM CENDEKIA melalui UNSYIAH RESEARCH FESTIVAL (URF) .. doakan ya guys semoga menang.. Aamiin.. Wah buat kalian yang belum tau dimana sih UNSYIAH itu.. nah jadi UNSYIAH adalah Universitas Syiah Kuala yang ada di Aceh guys.. yups.. bener baget di ujung Barat Indonesia ini... Sedikit info nih guys.. UNSYIAH ini adalah universitas tertua di Aceh, yang mana Universitas ini dibangun pada tanggal 2 september 1961.. nah buat kalian yang pengen tau nih lebih lanjut tentang UNSYIAH bisa klik link ini yahh.. >> https://unsyiah.ac.id. Next guys.. Dahhh lanjut-lanjut… kita balik lagi ke masa lalu… eitdahh maksudnya ke artikel lomba ini guys… hahhaha krik krik krik.. Garinggg.. Jadi dalam lomba blog competition ini mengangkat tema Peran Milenial Dalam Implementasi Sustainable D...
Ini Makanan Favorit di Kota Ku Jaet baju, baju yang koyak Dikoyai oleh kakak Siapo wong yang dak galak Pempek plembang paleng lemak Hayoo siapa nih yang belum ngerti apa maksud pantun diatas??? Tapi yang pasti tau dong yah dengan tulisan yang berhuruf tebal diatas?? Yeahh benar sekali.. Pempek.. Wahh siapa sih yang tidak tau dengan makanan khas satu ini??? Kebanggan wong kito galo alias masyarakat Sumatera Selatan, Palembang... Yap bener sekali yaitu Pempek atau biasa juga disebut empek-empek. Jadi Pempek atau empek-empek adalah makanan tradisional khas dari provinsi sumatera selatan (Palembang) yang terbuat dari campuran adonan ikan giling, tepung tapioka dan bahan pendukung lainnya. Rasanya yang sangat nikmat dan gurih, membuat kuliner ini memiliki banyak penggemar lohh.. bahkan sampai ke kancah internasional. Dalam penyajiannya sendiri, pempek biasanya akan disajikan dengan kuah lezat berwarna coklat nan kental dengan paduan rasa pedas, manis, dan sedikit asam atau tidak...
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa” KESEMPURNAAN KISAH BAIK SUMIATI Alang berjawab, tepuk berbatas. Itulah peribahasa singkat yang menggambarkan coretan kisah ini. Kisah yang membuat ku sadar akan pentingnya berbuat baik kepada siapapun tanpa memandang siapa orang tersebut. Kisah ini sungguh pilu jika dikenang, namun kepiluan itulah yang membuatnya menjadi begitu berharga. Kala itu aku menemani ibuku yang berjualan keliling. Ya , aku bukanlah berasal dari keluarga yang berada. Ayahku hanyalah seorang petani dan Ibuku seorang pedang keliling. Ketika itu aku d an ibuku berjualan kacang rebus ke desa sebelah. Walau jarak yang lumayan jauh, hal ini bukan suatu penghalang bagi aku dan ibuku untuk berjualan. Kami menjajakan keliling desa dari dusun satu hingga dusun lainnya. Hingga tanpa disadari waktu Sudah semakin sore Sehingga kami kesorean untuk pulang. ...
Komentar
Posting Komentar